Jumat 31, Agustus 2012 Pembukaan Dies Natalis Universitas Airlangga ke-58 nampak meriah dengan menampilkan bakat-bakat seni dari mahasiswa-mahasiswa Universitas Airlangga. Tari Tirta Amerta serta tari Lenggang Surabaya dibawakan dengan mengagumkan oleh Unit Kegiatan Tari dan Karawitan Universitas Airlangga. Persembahan tari Saman oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan grup Al Banjari Fakultas Farmasi juga tak kalah membuat semarak.
Grup Al Banjari Farmasi: Bisa Berlatih di Segala Tempat
Sayup-sayup suara musik rebana terdengar merdu di pinggir danau Kampus C Universitas Airlangga. Grup Al Banjari Fakultas Farmasi dengan kostum perpaduan warna ungu dan abu-abu, nampak melakukan pemanasan sebelum pentas pada acara pembukaan Dies Natalis Universitas Airlangga ke-58. “Kebetulan kita mendapat kesempatan tampil terakhir setelah UKTK dan Tari Saman FK,” ujar salah satu personilnya.
Grup Al Banjari ini bertemu karena latihan kepemimpinan yang di kampus, pada sesi mempertunjukan bakat. Setelah Saifudin mengumpulkan beberapa mahasiswa Farmasi yang dapat bermain Banjari menjadi sebuah grup Al Banjari di kampus. Sejak saat itu, mereka sering mendapat tawaran tampil diberbagai acara di Fakultas.
Al Banjari merupakan musik-musik Islami yang berisi Sholawat dan puji-pujian untuk Nabi Muhammad dan Allah Swt dengan menggunakan alat musik rebana. Musik yang sering dimainkan di lingkungan pesantren ini merupakan salah satu cara syiar Islam di Indonesia. Musik rebana ada banyak macamnya antara lain hadra, banjari, marawis, dan yang membedakan adalah alat musiknya sendiri. Alat musik Banjari Nampak seperti rebana tapi ada kecernya. Banjari memiliki dua versi penabuhan atau penabuhan berpasangan yaitu lanangan wedokan.
Pertama belajar Banjari masing-masing personil mengalami kesulitan tersendiri. Kebanyakan kesulitannya karena variasi penabuhannya yang cukup banyak dan sulit, terlebih mereka berasal dari berbagai daerah, dari Cepu, Tuban, Gresik, Sidoarjo, dan lainya, yang mempunyai karakter penabuhan yang berbeda-beda. Dari perbedaan itu mereka mencoba membuat menyatukannya dan membuat musik Banjari yang indah di telinga.
Misi mereka adalah memperkenalkan Banjari pada khalayak ramai, terutama pada generasi muda Indonesia. Strandar grup Banjari sebenarnya berjumlah 10 orang, mereka berusaha tampil maksimal dengan 8 personil.
Salah satu kelebihan Banjari adalah bisa berlatih di mana saja. “Tidak harus menggunakan ruangan, bisa di taman ataupun di pinggir jalan.” Di Jawa Timur sendiri ternyata ada banyak komunitas Banjari, Sidoarjo merupakan salah satu kota secara intens mengadakan lomba Banjari. Saat ini grup Al Banjari Farmasi belum memiliki peralatan sendiri, masih meminjam salah satu organisasi mahasiswa muslim eksternal kampus. Namun mereka berencana membuat jadwal latihan yang tetap dan melakukan pembelian alat-alat sendiri jika ada dana.
Tirta Amerta Melenggang untuk Airlangga
“Adik-adik ikuti gerakan saya ya, satu.. dua.. tiga..” ujar Chintya salah satu penari Lenggang Surabaya Unit Kegiatan Tari dan Karawitan (UKTK) dari atas panggung. Mahasiswa-mahasiswa baru yang telah dibekali selempang warna masing-masing Fakultas itu pun mengikuti intruksi dengan kompak dan antusias, walaupun agak terbata-bata. ‘Kursus’ menari singkat ini pun menjadi penutup manis acara pembukaan Dies Natalis Universitas Airlangga ke-58. Lenggang Surabaya adalah tarian yang diciptakan oleh seniman asli Surabaya, dan cocok ditarikan secara kolosal.
Pada awal pembukaan UKTK Universitas Airlangga juga menampilkan tari Tirta Amerta, yang bercerita tentang perjuangan Tirta (Air) Amerta di kerajaan Airlangga menuju keabadian. Makna tarian ini, merupakan harapan agar pendidikan Universitas Airlangga menjadi ‘abadi’, tidak pernah mati, dan selalu bisa memberikan kehidupan bagi seluruh civitas akademika Universitas Airlangga. Hal ini diungkapkan oleh Chintya penari UKTK yang menjadi koreografer tari Tirta Amerta.
Mahasiswa Fakultas Keperawatan tersebut mengaku membuat tarian itu dalam waktu kurang lebih satu bulan, sesuai dengan permintaan dari pihak rektorat pada waktu pelaksanaan Student Week. Tari Tirta Amerta juga merupakan juga terinspirasi tari Titian Airlangga yang pernah dibuat sebelumnya. Tirta Amerta mengambil ragam tari dari berbagai tarian di Jawa Timur, seperti Reog, Remo dan tari-tarian Madura. Tidak hanya menjadi koreografer Chintya yang telah menekuni dunia tari sejak duduk di bangku TK ini, juga merancang sendiri kostum yang dipakai dalam tarian Tirta Amerta.
Musik pengiring tarian pun diramu sendiri oleh UKTK Universitas Airlangga. Eko, mahasiswa Ilmu Budaya Program Studi Ilmu Sejarah mempunyai peran penting dalam pembuatan musik pengiring tari. “Ragam musiknya mencampur antara ragam musik tradisonal Jawa dan Bali, kemudian memberi sentuhan modern dengan menambahkan perkusi. Perkusi ini yang membuat musik menjadi lebih rancak dan tidak membosankan,” ungkapnya.
Naskah: Intan | Foto: Bambang Bes.